Tampilkan postingan dengan label mengapa salaf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mengapa salaf. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Oktober 2012

Menjawab Tuduhan Idahram: Tentang Julukan Wahabi & Penamaan Salafi



Posted by Abu Umamah
salafi-antara-tuduhan-dan-kenyataan
Add caption
Add caption
salafi-antara-tuduhan-dan-kenyataan
MENGKRITISI ISTILAH WAHABI
Kata Wahabi, Wahabisme ( الوهابي ) adalah sebuah kata yang dimunculkan oleh orang-orang yang tidak menyukai dakwah yang diserukan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah. Beliau sendiri, sebagai orang yang menyerukan dakwahnya, demikian pula murid-murid beliau, tidak pernah menamakan diri dengan Wahabi.
Ini sekaligus sebagai bantahan terhadap saudara Idahram yang taklid buta kepada Al-Buthi (tokoh Ikhwanul Muslimin) yang menuduh bahwa, nama wahabi pada akhirnya diganti menjadi salafi setelah mengalami kegagalan. (Sejarah Berdarah…, hal. 27).
Padahal kenyataannya, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah memang tidak pernah menamakan diri dengan wahabi, terlebih dari sisi bahasa dan istilah penamaan wahabi yang  tidak tepat. Seorang Ulama Al-Azhar Mesir, Syaikh Muhammad Hamid Al-Faqi rahimahullah berkata,
“Penisbatan nama wahabi kepada beliau salah menurut bahasa Arab, yang benar penisbatannya adalah Muhammadiyyah (bukan wahabiyah), karena nama beliau Muhammad bukan Abdul Wahhab.”(Lihat Majmu’atur Rosaail At-Taujihat Al-Islamiyah Li Ishlahil Fardi wal Mujtama’ (3/240))
Lalu siapakah yang pertama memunculkan penamaan ini?
Sejarah mencatat, istilah wahabi pertama kali disematkan kepada dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah oleh penjajah Inggris, ketika mereka mendapatkan perlawanan yang keras dari para mujahid India yang terpengaruh oleh dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.
Fakta sejarah ini diungkapkan oleh Syaikh Muhammad bin Manzhur An-Nu’mani dalam Di’ayaat Mukatstsafah Diddu Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, hal 105-106, sebagaimana dalam Da’awa Al-Munawiin, hal. 310. Fakta ini juga merupakan bukti permusuhan Inggris terhadap dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.
Penjajah Inggris-lah yang pertama menamakan ulama Doeband di India dengan Wahabi karena kerasnya pertentangan mereka terhadap penjajah dan pengaruh dakwah Syaikh Muhammad bin abdul Wahhab rahimahullah pada mujahidin di India. Fenomena ini juga sekaligus bantahan terhadap tuduhan saudara Idahram bahwa ulama pengikut Wahabi tidak pernah berjihad melawan penjajahan Barat Yahudi dan Kristen (pada hal. 68).
Walhamdulillah, penjajahan Barat tidak pernah benar-benar memasuki daratan Najd, Makkah, Madinah dan sekitarnya yang dikuasai Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dan pengikut-pengikutnya. Sedang pada zaman beliau, kesyirikan dan bid’ah benar-benar tersebar di wilayahnya, beliau pun sibuk memberantas kesyirikan dan bid’ah, karena hal itu akan menghalangi kaum muslimin dari pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka bagaimana mungkin mengajak kaum muslimin berjihad?!
Dan jihad itu sendiri hukumnya bisa fardhu ‘ain dan bisa pula fardhu kifayah. Di antara bentuk jihad yang  fardhu ‘ainadalah kewajiban jihad bagi penduduk suatu negeri apabila musuh telah masuk di wilayah mereka, sedangkan bagi kaum muslimin di wilayah lainnya hukumnya fardhu kifayah. Maka jelaslah tuduhan tidak berjihad melawan Barat hanya sekedar mencari-cari kesalahan tanpa ada penelitian yang mendalam.
Meskipun kenyataan yang  sebenarnya, pada tahun 1806 H, orang-orang Qawasim yang telah mengikuti dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah sudah pernah menyerang bahkan mengalahkan serta mengusir pasukan Inggris di perairan Teluk. [Lihat kitab Al-Jadidah fi Tarikh Al-Utsmaniyyin, hal. 158 dan Tarikh Al-Ahsaa As-Siyasi, Dr. Muhammad ‘Araabi, hal. 42-43, sebagaimana dalam Ad-Daulah Al-Utsmaniyyah, Awamilun Nuyudh wa Asbaabus Suquth, karya Ash-Shalabi, softcopy dari http://www.slaaby.com].
Maka fakta ini juga sebagai bantahan  terhadap tuduhan dusta saudara Idahram bahwa Dir’iyyah bekerjasama dengan Inggris untuk melemahkan khilafah (pada hal. 120). Justru Inggris sangat senang dengan jatuhnya Dir’iyyah (ibukota Saudi yang pertama) ke tangan Turki ketika Ibrahim Basya menyerang Dir’iyyah [lihat fakta sejarah ini dalam kitabDirosat fi Tarikh Al-Khalij Al-‘Arabi Al-Hadits wal Mu’ashir, 1/198, sebagaimana dalam Ad-Daulah Al-Utsmaniyyah, Awamilun Nuhudh wa Asbaabus Suquth, karya Ash-Shalabi, softcopy dari http://www.slaaby.com]. Inilah sesungguhnya sebab terbesar jatuhnya khilafah Turki Utsmani, yaitu kejahatan mereka menyerang ahlut tauhid was sunnah.
Istilah wahabi inipun, segera dijadikan senjata oleh para pelaku bid’ah dan syirik yang gerah terhadap dakwah tauhid dan sunnah yang diserukan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah, tujuan mereka tidak lain untuk menjatuhkan dakwah beliau.
Syaikh Mas’ud An-Nadwi rahimahullah berkata,
“Sesungguhnya di antara dusta yang paling jelas atas dakwah Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah adalah penamaan wahabi. Akan tetapi, orang-orang yang memiliki kepentingan, telah berhasil mencitrakan penamaan wahabi ini seakan suatu agama di luar Islam. Orang-orang Inggris, Turki dan Mesir (ketika itu) menjadikan istilah wahabi sebagai momok yang menakutkan.
Setiap kali bangkit satu gerakan (perlawanan) Islam di dunia Islam pada dua abad yang lalu, dan orang-orang Eropa melihatnya sebagai sebuah ancaman atas kepentingan mereka, maka dengan segera mereka kait-kaitkan gerakan tersebut dengan wahabi yang berasal dari Najd.”[1]
Istilah wahabi ini memang di telinga orang awam lebih dapat mencitrakan kejelekan dibandingkan istilah muhammadi, walaupun hakikatnya istilah muhammadi yang lebih tepat, karena nama Syaikh adalah Muhammad  sama dengan Nabi kita yang mulia, sedangkan Abdul Wahhab adalah nama bapaknya dan Wahhab (الوهاب ) itu sendiri adalah nama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang agung.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً, إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ
“(Mereka berdoa): Ya Rabb Kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada Kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena Sesungguhnya Engkau-lah Maha pemberi (karunia).” (QS. Ali-Imran: 8)
أَمْ عِندَهُمْ خَزَائِنُ رَحْمَةِ رَبِّكَ الْعَزِيزِ الْوَهَّابِ
“Atau apakah mereka itu mempunyai perbendaharaan rahmat Rabbmu yang Maha Perkasa lagi Maha pemberi?”(QS. Shaad: 9)
قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لَّا يَنبَغِي لِأَحَدٍ مِّن بَعْدِي إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ
“Ia berkata: Ya Rabbku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.” (QS. Shaad: 35)
Ayat-ayat di atas jelas, bahwa Al-Wahhab adalah salah satu nama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berarti memberi[2]. Hanya karena di kalangan orang awam nama Allah Al-Wahhab kurang begitu diketahui lalu dengan licik dan tanpa adab kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mereka gunakan namaNya untuk memberi kesan buruk terhadap dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.
وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ
“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggamanNya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kananNya.Maha Suci Dia dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. Shaad: 67)
Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu rahimahullah berkata,
“Orang-orang itu telah terbiasa menyebut istilah wahabi bagi setiap orang yang menyelisihi kebiasaan, keyakinan dan bid’ah-bid’ah mereka. Meskipun keyakinan-keyakinan mereka itu rusak, menyelisihi Al-Qur’anul Karim dan hadits-hadist yang shahih, juga menyelisihi dakwah kepada tauhid dan ajakan untuk berdoa hanya kepada Allah yang satu saja, tidak kepada selain-Nya.
Aku pernah membacakan kepada seorang syaikh (sufi), hadits Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma yang ada dalam Al-Arba’in An-Nawawiyah, yaitu sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ الله وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِالله
“Apabila kamu mau meminta (doa) maka mintalah kepada Allah.” (HR. Al-Imam At-Tirmidzi)[3]
Sangat mengagumkan penjelasan Al-Imam An-Nawawi rahimahullah ketika beliau berkata,
‘Kemudian apabila hajat yang diminta oleh seseorang itu bukanlah suatu hajat yang bisa dikabulkan oleh makhluk, seperti meminta hidayah, ilmu, kesembuhan penyakit dan kesehatan, maka hendaklah minta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Memintanya kepada makhluk dan bergantung kepadanya adalah suatu yang tercela.’
Maka aku katakan kepada syaikh ini, bahwa hadits ini dan penjelasan Al-Imam An-Nawawi bermakna tidak boleh meminta tolong (doa) kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Maka Syaikh itu berkata, ‘Bahkan boleh.’
Aku katakan, ‘Apa dalilmu?’
Dia pun marah dan berkata dengan suara keras, ‘Sungguh bibiku telah berdoa, wahai Syaikh Sa’ad (padahal Syaikh Sa’ad sudah dikubur di masjidnya[4], dia minta tolong (berdoa) kepada Syaikh Sa’ad),
Maka aku bertanya kepada bibiku, ‘apakah Syaikh Sa’ad bisa memberi manfaat kepadamu?’
Bibiku berkata, ‘Aku berdoa kepada Syaikh Sa’ad, lalu beliau meneruskannya kepada Allah, hingga menyembuhkan aku.’
Aku katakan kepada Syaikh ini, ‘Sungguh engkau seorang yang pintar, banyak membaca buku, lalu kenapa engkau mengambil aqidahmu dari bibimu yang jahil?’
Dia berkata, ‘Engkau memiliki pemikiran Wahabi, engkau pergi melaksanakan umroh lalu kembali dengan membawa buku-buku Wahabi’.”[5]
Demikianlah, mereka menamakan Wahabi terhadap ajaran tauhid dan sunnah yang menyelisihi kesyirikan dan bid’ah mereka.
مَّا لَهُم بِهِ مِنْ عِلْمٍ وَلَا لِآبَائِهِمْ ۚ كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ ۚ إِن يَقُولُونَ إِلَّا كَذِبًا
“Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah buruknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta.” (QS. Al-Kahfi: 5)
TENTANG PENAMAAN SALAFI
Saudara Idahram mengklaim nama salafi hanyalah upaya ganti baju para pengikut dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah (pada hal. 27). Menurutnya, penamaan salafi itu sendiri muncul pertama kali di Mesir setelah penjajahan Inggris (pada hal. 29)
Pembaca yang budiman, telah dimaklumi bersama bahwa salafi ( السلفي )itu bermakna pengikut generasi salaf ( السلف ), sedangkan yang dimaksud dengan generasi Salaf adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Dan ummat Islam tidak berbeda pendapat akan keharusan meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, sehingga mincul istilah salafi untuk membedakan para pengikut Salaf dengan golongan yang menyimpang dari jalan Salaf.
Sama halnya dengan penamaan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, penamaan ini secara nash, juga tidak terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Walaupun demikian tidak ada yang mencela penamaan ini, bahkan ulama memunculkan penamaan ini demi untuk membedakan golongan yang benar dan golongan yang menyimpang dari sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Golongan inilah golongan yang selamat (al-firqotun najiyah) yang dimaksudkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits,
و تفترق أمتي على ثلاث و سبعين ملة كلهم في النار إلا ملة و احدة ما أنا عليه و أصحابي
“Dan akan berpecah ummatku menjadi 73 millah, semuanya di neraka kecuali satu, yaitu yang mengikuti aku dan para sahabatku.” (HR. Al-Imam At-Tirmidzi)[6]
Dalam riwayat lain,
إن أمتي ستفترق على اثنتين و سبعين كلها في النار إلا و هي الجماعة
“Sesungguhnya ummatku akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali satu, yaitu al-jama’ah.”[7]
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata dalam kitabnya Risalah Ila Ahlil Qosim,
“Aku berkeyakinan seperti yang diyakini oleh golongan yang selamat (al-firqotun najiyah), yaitu golongan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, aku beriman kepada Allah, Malaikat-malaikatNya, Kitab-KitabNya, Rasul-rasulNya, kebangkitan setelah kematian dan aku beriman kepada takdir Allah, baik dan buruknya.”[8]
Asy-Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata, “Mazhab kami dalam ushuluddin adalah mazhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan jalan beragama kami adalah jalan salaf.”[9]
Pembaca yang budiman, demikian hakikat ajaran Salafi yang mereka namakan Wahabi, sebenarnya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah sama sekali tidak membawa ajaran baru, melainkan ajaran generasi salaf. Adapun klaim saudara Idahram bahwa penamaan salafi baru muncul setelah penjajahan Inggris di Mesir, ini adalah kebohongan publik demi untuk menggiring opini seakan-akan dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah adalah ajaran baru.
Mari kita lihat penyebutan nama salafi dari kitab-kitab ulama dahulu.[10]
1. Al-Imam Adz-Dzahabi berkata tentang Al-Imam Ad-Daruquthni, “Orang ini (yaitu, Ad-Daruquthni) tak pernah masuk ke dalam ilmu kalam dan jidal, dan tidak pula terjun ke dalamnya, bahkan ia adalah salafi.” (Siyar A’lam An-Nubala’ (16/457))
2. Al-Imam Ad-Dzahabi berkata tentang Al-Imam Muhammad bin Muhammad Al-Bahroni, “Dia adalah seorang yang taat beragama, orangnya baik lagi salafi.” (Mu’jam Asy-Syuyukh (2/280))
3. Al-Imam Adz-Dzahabi berkata tentang Al-Imam Sholahuddin Abdur Rahman bin Utsman bin Musa Al-Kurdi Asy-Syafi’i,“Dia adalah seorang salafi bagus aqidahnya.” (Tadzkiroh Al-Huffazh (4/1431))
4. Al-Imam Adz-Dzahabi berkata tentang Al-Imam Abdullah Ibnul Muzhoffar bin Abi Nashr bin Habatillah, “Dia adalah seorang yang tsiqoh (terpercaya), sholeh, lagi salafi.” (Tarikh Al-Islam (1/4236))
5. Al-Imam Adz-Dzahabi berkata tentang Al-Imam Al-Qodhi Abul Hasan Umar bin Ali Al-Qurosyi Abil Barokat Ad-Dimasyqi,“Dia adalah seorang waro’, sholeh, beragama, lagi salafi.” (Tarikh Al-Islam (1/4849))
6. Al-Imam Adz-Dzahabi berkata tentang Al-Imam Abdur Rahman bin Al-Khodhir bin Al-Hasan bin Abdan Al-Azdi, “Dia adalah seorang sunni, salafi, lagi atsari –semoga Allah merahmatinya-.” (Tarikh Al-Islam (1/4861))
7. Al-Imam Ash-Shofadi berkata tentang Al-Imam Tajuddin At-Tibrizi Asy-Syafi’i, “Dia adalah seorang salafi, lagi tegas menyatakan kebenaran.” (Al-Wafi fil Wafayat (1/2603))
8. Al-Hafizh Ibnu Abdil Hadi rahimahullah berkata tentang gurunya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, “Beliau senantiasa di atas hal itu (sibuk dengan ilmu) sebagai generasi penerus yang sholeh lagi salafi.” (Al-‘Uqud Ad-Durriyyah (ha. 21))
Inilah penukilan terhadap penamaan salafi dari para ulama dahulu dalam memuji seorang yang berpegang teguh dengan ajaran Salaf. Jadi bukanlah suatu yang baru muncul di Mesir setelah penjajahan Inggris seperti yang diklaim oleh saudara Idahram. Agar lebih jelas bagi para pembaca tentang hakikat ajaran Salafi, berikut kami lampirkan fatwa MUI Jakarta Utara.
http://a1.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/226005_262938543718033_100000056680128_1108100_3847886_n.jpg
http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/223668_262938637051357_100000056680128_1108101_4633800_n.jpg
Download Fatwa MUI Jakarta Utara tentang SALAF/SALAFI: http://www.mediafire.com/file/hpr8q3u0g7oua57/fatwa-mui1.pdf (format pdf)
Footnote:
[1] Muhammad bin Abdul Wahhab Muslihun Mazlumun wa Muftara ‘Alaihi, hal. 193.
[2] Lihat Fiqhul Asmaail Husna, Syaikhuna Prof. Dr. Abdur Rozzaq bin Abdul Muhsin Al-‘Abbad hafizhahullah, hal. 142.
[3] HR. Al-Imam At-Tirmidzi dan beliau berkata Hadits ini Hasan Shahih dari Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma dan dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’, no. 7959.
[4] Menguburkan seseorang di masjid termasuk bid’ah dan dapat mengantarkan kepada perbuatan syirik. Sehingga para ulama melarang sholat di masjid yang dibangun di atas kuburan, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang sholat di kuburan.
[5] Maj’muatur Rosaail At-Taujihaat Al-Islamiyyah Li Ishlahil Fardi wal Mujtama’, 3/191.
[6] HR. Tirmidzi no. 2641 dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiallahu ‘anhuma dan dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shohihul Jami’, no. 9474 dan Al-Misykah, no. 171 pada tahqiq keduanya.
[7] HR. Al-Imam Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu dan dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Zhilalul Jannah, no.64.
[8] Syarhu Risalah Ila Ahlil Qosim, Syaikh Shalih Al-Fauzan, hal. 15-16.
[9] Ad-Durorus Saniyah, 1/126, sebagaimana dalam Min A’lamil Mujaddidin, hal.110.
[10] Dari artikel Al-Ustadz Abdul Qodir, Lc. Hafizhahullah di www.almakassari.com yang berjudul, “Terlarangkah Memakai Nisbah As-Salafiy atau Al-Atsariy”, dengan sedikit perubahan.
Ditulis oleh Al-Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray hafidzhahullah dalam buku “Salafi, Antara Tuduhan dan Kenyataan” penerbit TooBagus cet. pertama.  Bantahan terhadap buku “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi” karya Syaikh Idahram hadahullah.
Sumber : Note FB by Rizky Abu Salman

Selasa, 26 Juni 2012

KARAKTERISTIK MANHAJ / DA'WAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH - bagian 3



, Penulis: Al-Ustadz Luqman Jamal, Lc

1. Ahlus Sunnnah Wal Jama’ah menasehati kaum muslimin dimanapun mereka berada khususnya di negeri-negeri kaum muslimin agar mereka mencintai ulama Ahlus Sunnnah Wal Jama’ah, berwala’ kepadanya, memuliakannya dan menyebutnya dengan kebaikan, tidak membeda-bedakan antara satu dengan yang lain, mentaatinya dan merujuk kepada mereka khususnya dalam perkara-perkara besar dan nawazil yang berkaitan dengan maslahat umat.



Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :



يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

"Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kalian ".(QS. An-Nisa` :59)



Dan Allah 'Azza wa Jalla berfirman :



فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui." (QS. Al-Anbiya` : 7).



Dan Allah memerintahkan dalam firman-Nya :



وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا

"Dan apabila datang kepada mereka suatu berita berkaitan dengan keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri diantara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalaulah bukan karena karunia dan rahmat Allah kepada kalian, tentulah kalian mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antara kalian)." (QS. An-Nisa : 83)



Dan Ulamalah yang mengetahui yang haq, menetapkan dan menghukumi dengan haq sebagaimana firman Allah Ta'ala :



وَيَرَى الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ الَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ هُوَ الْحَقَّ وَيَهْدِي إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ

" Dan orang-orang yang diberi ilmu (Ahli Kitab) berpendapat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu itulah yang benar dan menunjuki (manusia) kepada jalannya Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji." (QS. Saba` : 6)



Dan Nabi shollallahu 'alaihi wa 'ala alihi wa sallam bersabda sebagaimana dalam hadits Abu Darda :



إِنَّ الْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَأَنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يَوْرِثْ دِيْنَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَإِنَّمَا وَرَثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

"Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi, dan para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa yang mengambilnya maka dia telah mengambil bagian yang sempurna". (HR. Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzy, Ibnu Majah dan dishohihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Shohih Abu Daud No. 3096, Shohih At-Tirmidzy 2/59 dan Shohih Ibnu Majah no. 223).



Berkata Ash-Shabuny (Aqidatus Salaf hal.121) : “Salah satu karakteristik Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah kecintaan mereka kepada Imam-imam sunnah, ulama-ulamanya, penolong-penolongnya dan wali-walinya”.



Berkata Ath-Thohawy rahimahullah : “Dan ulama salaf dari yang terdahulu dan yang sesudahnya dari kalangan tabi’in (yang mereka itu adalah) ahli kebaikan dan atsar, ahli fiqh dan nazhar, Tidaklah mereka disebut kecuali dengan kebaikan dan siapa yang menyebut mereka dengan kejelekan maka ia tidak berada diatas jalan (jalan Islam dan sunnah-pent.)”. (Dari Syarah Al-Aqidah Ath-Thohawiyah hal. 740)



Dan siapakah ulama sunnah itu ?

Berkata Imam Ibnu 'Abdil Barr : "Telah sepakat ahli fiqih dan atsar dari seluruh negeri bahwasanya ahlul kalam adalah ahlul bida' dan penyimpangan dan tidak dianggap menurut mereka di seluruh negeri dalam kelompok ulama. Sesungguhnya ulama itu adalah ahlul atsar dan mengambil fiqhi darinya dan mereka bertingkat-tingkat didalamnya sesuai dengan kemahirannya, keahliannya dan pemahamannya". (Lihat : Jami' Bayanil 'Ilmi wa Fadhlihi 2/95-96).



Berkata Imam Al-Barbahary : (Syarhus Sunnah hal.102 No.103) : “Ketahuilah -semoga Allah merahmatimu- Sesungguhnya ilmu itu bukanlah karena banyaknya riwayat dan kitab, sesungguhnya 'Alim (ulama) itu adalah siapa yang mengikuti ilmu dan sunnah walaupun sedikit ilmu dan kitabnya dan siapa yang menyelisihi kitab dan sunnah maka dia adalah ahlul bid'ah walaupun banyak ilmu dan kitabnya."



Dan salah satu ciri khas ahlul bid'ah adalah membenci ahlul hadits.

Berkata Ahmad bin Sinan Al-Qoththon : "Tidak ada seorangpun mubtadi' (penganut bid'ah) di dunia kecuali dia pasti membenci ahlul hadits. Dan apabila seseorang berbuat bid'ah maka akan dicabut manisnya hadits dari hatinya." (Lihat : Aqidah Ashhabil Hadits hal. 116, Shaunul Manthiq hal.41 dan Tadzkirutul Huffazh 2/521).



2. Ahlus Sunnnah Wal Jama’ah menyeru kaum muslimin untuk saling mencintai, saling merahmati dan menjalin ukhuwah islamiyah antara mereka.



Seluruh hal tersebut sebagai realisasi dari firman Allah 'Azza wa Jalla :



إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَنُ وُدًّا

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang". (QS.Maryam : 96).



Dan firman Allah Jallat 'Azhomatuhu :



وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

" Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: "Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang"". (QS. Al-Hasyr : 10)



Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :



إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

"Sesungguhnya orang-orang mu'min adalah bersaudara". (QS. Al-Hujarat : 10)



Berbeda dengan selain mereka dari umat-umat kafir dan kelompok-kelompok yang sesat yang Allah telah tetapkan kebencian dan permusuhan diantara mereka sehingga hati mereka bercerai berai walaupun mereka berusaha menampakkan dan meneriakkan slogan persatuan dan kasih sayang, sebagaimana dalam firman Allah Al-'Alim bidzatish Shodur :



تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّى ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْقِلُونَ

"Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada mengerti.". (QS. Al-Hasyr : 14)



3. Termasuk karakteristik Ahlus Sunnnah Wal Jama’ah yang menonjol adalah kesungguhan dan terus menerusnya mereka dalam menuntut ilmu syari’at (Al-Qur`an dan Sunnah).



Hal tersebut karena banyak dalil dari Al-Qur`an dan Sunnah yang menunjukkan tentang keutamaan ilmu dan anjuran untuk menuntuk ilmu. Seperti firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala :



يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

"Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.". (QS. Al-Mujadilah : 11).



Dan dakwah di jalan Allah harus disertai dengan ilmu, sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala :



قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

"Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik". (QS. Yusuf : 108).



Sesungguhnya dakwah di jalan Allah adalah kewajiban, maka seorang da'i wajib untuk berilmu tentang apa yang dia dakwahkan.

Kata Syeikh Sholih Al-Fauzan hafizhohullah : Orang jahil tidak pantas untuk menjadi da'i (Lihat : muqaddimah beliau terhadap kitab Manhajul Anbiya` fid Da'wah hal. 20 karya Syaikh Rabi' bin Hady Al-Madkhaly hafizhohullah).



Dan Rasulullah shollallahu 'alaihi wa 'ala alihi wa sallam bersabda :



طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

"Menuntut ilmu adalah kewajiban atas setiap muslim". (HR. Ibnu Majah dan lain-lainnya dari Anas bin Malik dan dihasankan dari seluruh jalan-jalannya oleh Syaikh Al-Albany dan Syaikh Muqbil rahimahumallah).



Dari Rasulullah shollallahu 'alaihi wa 'ala alihi wa sallam bersabda :



يَحْمِلُ هَذَا الدِّيْنَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُوْلُهُ يَنْفُوْنَ عَنْهُ تَحْرِيْفَ الْغَالِيْنَ وَانْتِحَالَ الُمْبْطِلِيْنَ وَتَأْوِيْلَ الْجَاهِلِيْنَ

"Agama ini akan diemban pada setiap generasi oleh orang-orang yang adil diantara mereka, (yang mereka itu) akan menolak setiap penyimpangan orang-orang yang melampaui batas, kerusakan orang-orang yang batil dan ta'wilnya orang-orang yang bodoh". (Dishohihkan oleh Imam Ahmad sebagaimana dalam Syaraf Ashabil Hadits hal 29 karya Al-Khatib Al-Baghdady dan dihasankan oleh Salim Al-Hilaly dalam Basho`ir Dzawi Asy-Syaraf hal. 111).



Kata Imam Ibnu Qoyyim : Nabi shollallahu 'alaihi wa 'ala alihi wa sallam memberitakan bahwasanya ilmu yang dibawanya akan dipikul oleh orang-orang yang adil dari umatnya dari setiap generasi supaya tidak lenyap dan hilang”. (Lihat Miftah Dar As-Sa’adah 1/163)



Berkata Al-Isma'ily (I’tiqod Ahlus Sunnah wal Jama'ah hal.54) : “Mereka (Ahlus Sunnah wal Jama'ah) melihat (wajibnya) mempelajari ilmu (syar'i) dan mencarinya (menuntutnya) dari tempatnya dan bersungguh-sungguh dalam mempelajari Al-Qur’an dan ilmu-ilmu tafsir, mendengarkan sunnah-sunnah Rasulullah shollallahu 'alaihi wa alihi wa sallam, menghafalkannya dan mempelajarinya (memahaminya) dan menuntut (mempelajari) atsar-atsar shahabat”.



Kata Imam Al-Barbahary (Syarhus Sunnah hal. 67 no.8) : “Maka lihatlah -semoga Allah memberikan rahmat padamu– semua yang kamu dengar ucapannya dari orang-orang, pada zaman kamu khususnya, maka janganlah tergesa-gesa dan jangan masuk padanya (membenarkan) sedikitpun sebelum kamu bertanya dan melihat apakah telah berbicara tentangnya (apa yang diucapkannya) para shahabat Rasulullah shollallahu 'alaihi wa 'ala alihi wa sallam atau seorang dari ulama maka jika kamu mendapatkan suatu atsar padanya (yaitu orang yang berbicara dan berfatwa dari shahabat) maka pegang teguhlah dengannya dan jangan kamu melampauinya sedikitpun dan jangan kamu memilih selainnya sedikitpun yang menyebabkan kamu masuk neraka”.
http://an-nashihah.com/index.php?mod=article&cat=Manhaj&article=10

KARAKTERISTIK MANHAJ / DA'WAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH - bagian 2


, Penulis: Al-Ustadz Luqman Jamal, Lc
1. Ahlus Sunnnah Wal Jama’ah sepakat pada pokok-pokok aqidah. Tidak ada perbedaan dan perselisihan diantaara mereka walaupun berbeda waktu dan tempat.

Berkata Syeikhul Islam Abul Muzhoffar Manshur bin Muhammad As-Sam'any rahimahullah : "Dan perkara yang paling jelas yang menunjukan bahwasanya ahlul hadits adalah ahlul haq, yaitu sesungguhnya jika kamu menelaah atau memperhatikan seluruh kitab-kitab yang mereka tulis, dulu maupun sekarang, walaupun negeri mereka berbeda–beda dan jaraknya berjauhan dan tinggal di negeri-negeri yang berbeda, maka kamu dapati mereka dalam menjelaskan aqidah di atas satu cara dan jalan yang sama, mereka berjalan di atas jalan tersebut dan tidak berpaling darinya dan tidak ada yang menyelisihi ucapan mereka pada yang demikian itu satupun diantara mereka, penukilan mereka satu, kamu tidak dapati pada mereka perbedaan dan perpecahan sedikitpun bahkan kalau kamu mengumpulkan seluruh yang keluar dari lisan-lisan mereka dan nukilan-nukilan mereka dari pendahulunya kamu dapatkan seakan-akan hal di atas berasal dari satu hati dan satu lisan. Maka apakah setelah kebenaran ini ada dalil yang lebih jelas darinya.

Allah berfirman (dalam surah An-Nisa` ayat 82) :



أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْءَانَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur'an? Kalau kiranya Al Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya”.



Dan firman Allah (dalam surah Ali 'Imran ayat 103) :



وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ ءَايَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni`mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”.



Adapun jika kamu lihat pada ahlul ahwa` wal bida', maka kamu melihat mereka bercerai berai, berselisih dalam kelompok-kelompok dan partai-partai. Hampir-hampir kamu tidak mendapati dua di antara mereka di atas satu jalan dalam keyakinannya, membid'ahkan antara satu dengan yang lain, bahkan sampai mengkafirkan, anak mengkafirkan bapaknya, seseorang mengkafirkan saudaranya, tetangga mengkafirkan tetangganya. Kamu dapati mereka paling menonjol dalam perselisihan, kebencian dan perbedaan, mereka menghabiskan umurnya sementara kalimat mereka tidak pernah sepakat. Sebagaimana firman Allah (dalam surah Al-Hasyr ayat 14) :



لَا يُقَاتِلُونَكُمْ جَمِيعًا إِلَّا فِي قُرًى مُحَصَّنَةٍ أَوْ مِنْ وَرَاءِ جُدُرٍ بَأْسُهُمْ بَيْنَهُمْ شَدِيدٌ تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّى ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْقِلُونَ

“Mereka tiada akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu menganggap mereka itu bersatu padahal hati-hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada mengerti”.



lalu beliau memberi beberapa contoh kemudian beliau berkata : "Dan apakah di atas kebatilan ada dalil yang lebih jelas dari perkara ini. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :



إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

"Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat".(QS. Al-An'am : 159)



(lihat : Al-Intishor li Ahlil Hadits dengan perantaraan Shaunul Mantiq hal. 165-170, Al-Hujjah Fii Bayani Al-Mahajjah 2/222-230, Mukhtashor Ash-Showa'iq hal. 496-498).



2. Diantara karakteristik yang paling jelas membedakan antara Ahlus Sunnnah Wal Jama’ah dengan ahlul bid'ah wal furqoh adalah hakikat nama dan penyandaran. Ahlus Sunnnah Wal Jama’ah pada setiap penamaannya ; Salafiyun, Ath-Thoifah Al-Manshurah, Al-Firqoh An-Najiyah dan Ahlul Hadits, semuanya adalah sandaran kepada Sunnah dan Jama'ah yang hanya menggambarkan Islam yang hakiki. Adapun ahlul bid'ah wal furqoh, penyandarkan diri mereka kadang kepada seseorang dari ahlul bid'ah atau pimpinan kesesatan seperti Jahmiyah, Kullabiyah, Maturidiyah, Jama'ah Tabligh, Ikhwanul Muslimin, Sururiyah, Quthbiyah. Dan kadang kepada pokok kesesatan mereka seperti Qodariyah, Jabariyah dan Murji`ah. Dan kadang kepada bentuk dan sifat kesesatan mereka seperti Rofidhoh, Shufiyah, Falasifah, Bathiniyah, Mu'tazilah dan Musyabbihah.



Berkata Al-Maqdisy : "Dan semua yang memberi nama selain Islam dan sunnah adalah ahlul bid'ah seperti Rafidhah (Syi'ah), Jahmiyah, Khawarij, Murji`ah, Mu'tazilah, Karramiyah, Kullabiyah, dan yang seperti mereka. Ini adalah kelompok-kelompok sesat dan kelompok-kelompok bid'ah. Semoga Allah melindungi kita darinya." (Lihat Lum'ah Al-I'tiqod hal. 124)



Dan secara umum penamaan Ahlus Sunnnah Wal Jama’ah berbeda dengan penamaan ahlul bid'ah wal furqoh dari beberapa sisi :


Satu : Penamaan-penamaan Ahlus Sunnnah Wal Jama’ah adalah nisbah kepada generasi awal umat Islam yang berada di atas tuntunan Rasulullah shollallahu 'alaihi wa 'ala alihi wa sallam, maka penamaan tersebut akan mencakup seluruh ummat pada setiap zaman yang berjalan sesuai dengan jalan generasi awal tersebut baik dalam mengambil ilmu atau dalam pemahaman atau dalam berdakwah dan lain-lainnya.


Dua : Kandungan dari penamaan-penamaan tersebut hanyalah menunjukkan tuntunan Islam yang murni yaitu Al-Qur`an dan sunnah Rasulullah shollallahu 'alaihi wa 'ala alihi wa sallam tanpa ada penambahan atau pengurangan sedikit pun.



Tiga : Penamaan-penamaan tersebut adalah penamaan syariat yang mempunyai asal dalil dari sunnah Rasulullah shollallahu 'alaihi wa 'ala alihi wa sallam.


Empat : Penamaan-penamaan tersebut hanyalah muncul untuk membedakan antara pengikut kebenaran dan para pengekor hawa nafsu dan golongan-golongan sesat, dan sebagai bantahan terhadap bid'ah dan kesesatan mereka.


Lima : Ikatan wala' (loyalitas) dan baro' (kebencian, permusuhan) bagi orang-orang yang bernama dengan penamaan tersebut, hanyalah ikatan wala' dan baro' di atas Islam (Al-Qur`an dan Sunnah) bukan ikatan wala' dan baro' karena seorang tokoh, pemimpin, kelompok, organisasi dan lain-lainnya.


Enam : Tidak ada fanatisme bagi orang-orang yang memakai penamaan-penamaan tersebut kecuali kepada Rasulullah shollallahu 'alaihi wa 'ala alihi wa sallam karena pemimpin dan panutan mereka hanyalah satu, yaitu Rasulullah shollallahu 'alaihi wa 'ala alihi wa sallam, berbeda dengan orang-orang yang menisbahkan dirinya ke penamaan-penamaan bid'ah fanatismenya untuk golongan, kelompok atau pimpinan.


Tujuh : Penamaan-penamaan tersebut sama sekali tidak akan menjerumuskan ke dalam suatu bid'ah, maksiat maupun fanatisme kepada seseorang atau kelompok dan lain-lainnya.



Lihat : Risalah 'Ilmiah An-Nashihah Vol. 02 Rubrik Manhaj.

http://an-nashihah.com/index.php?mod=article&cat=Manhaj&article=9